Kepada Calon
Pada matahari yang tak terhempaskan. Pada angin nan tak terkibaskan. Pada api yang mengobarkan. Pada bumi yang tak terengkuh. Tak ada ragu tuk mengibarkan sejuta asa pesona. Pada kalbu-kalbu yang gelisah di penantian sunyi. Harini aku berjanji. Aku berikrar. Bila akhirnya kau kurengut ku pagut, maka tak ada rongga yang tak kututup…
Atas nama negeri mereka semua berjanji. Dan kami semua menanti. Sebab bagi kami mereka tidak hanya nafas, tapi juga denyut. Kepalan maupun lambayan mereka sungguh sebuah harap. Dari kejauhan tak kuasa kutolak bayang-bayang gelap, sirna. Meski dengan rundungan noda dan nista, masih kusisakan doa bagi mereka, agar kelak janji-janji yang telah terpancang begitu rupa, mendaulat mereka
Pemimpin mungkin juga calon pemimpin, mereka kini semuanya berjanji. Pada pintu-pintu mereka mengetuk, di gerbang layar membentang terang. Menyambut siapa saja yang datang, segera saja berjuta andai kudendangkan. Negeriku bertabur senyum.
Wuiih di jalan-jalan yang kususuri dengan lamun, kutemui kuntum-kuntum merekah. Elok. Kenapa negeriku bersolek begitu rupa, padahal luka masih menganga. Hendakkah kau lupakan kau tanggalkan duka? Tak kutemui isak pada setiap jengkal yang kuhampiri.
Jejak berjejak berganti tapak. Mereka datang silih berganti. Amboiii indahnya. Berderet senyum berhias rona, wajah mereka seperti senja. Ingin ku usap kuberi pulas, supaya janji semakin jelas. Tak ada pilu juga pun ngilu, mereka kini adalah biduk. Siap mengantar berpulau tuju.
Duhai mahligai yang hendak tergapai, berkatilah mereka dengan auramu. Jangan kau murkai mereka dengan angkuhmu. Niscaya kami renta tak kuasa tak berdaya. Tak sanggup kami membujuk, tak tahan kami merajuk, bila mahligai tak sanggup tergapai, pasti kami beroleh badai. Sirna jingga, sirna senja. Tak ingin kami kembali nista. Jauh, jauhkanlah ke tepi sehingga badai tak menghampiri.
Mungkin esokkan segera tiba. Calon segera berganti lakon. Ada yang merengkuh seraya bergemuruh, ada yang lunglai beraroma keruh. Tak henti ku bertengadah, tak jera ku panjat doa, agar kelak bila bersua, tak kau kuak luka dan murka. Calon biarlah tak berlakon, tapi jejak bertepi mati. Jejak elok takkan berkelok. Bila jejak kau simbah darah, kelak singgah berjulur galah. Anang A Yaqin
Di teras belakang, kami bercerita tentang kegiatan, berbagi fantasi tentang impian, berencana tentang masa depan, bahkan blak-blakan mengenai sisi gelap kehidupan. 
