Pencarian

Shoutbox


ShoutMix chat widget

Recent Posts

Recent Comments

Kepada Calon

Posted on Thursday, May 21, 2009 by jojo

Pada matahari yang tak terhempaskan. Pada angin nan tak terkibaskan. Pada api yang mengobarkan. Pada bumi yang tak terengkuh. Tak ada ragu tuk mengibarkan sejuta asa pesona. Pada kalbu-kalbu yang gelisah di penantian sunyi. Harini aku berjanji. Aku berikrar. Bila akhirnya kau kurengut ku pagut, maka tak ada rongga yang tak kututup…


Atas nama negeri mereka semua berjanji. Dan kami semua menanti. Sebab bagi kami mereka tidak hanya nafas, tapi juga denyut. Kepalan maupun lambayan mereka sungguh sebuah harap. Dari kejauhan tak kuasa kutolak bayang-bayang gelap, sirna. Meski dengan rundungan noda dan nista, masih kusisakan doa bagi mereka, agar kelak janji-janji yang telah terpancang begitu rupa, mendaulat mereka

Pemimpin mungkin juga calon pemimpin, mereka kini semuanya berjanji. Pada pintu-pintu mereka mengetuk, di gerbang layar membentang terang. Menyambut siapa saja yang datang, segera saja berjuta andai kudendangkan. Negeriku bertabur senyum.
Wuiih di jalan-jalan yang kususuri dengan lamun, kutemui kuntum-kuntum merekah. Elok. Kenapa negeriku bersolek begitu rupa, padahal luka masih menganga. Hendakkah kau lupakan kau tanggalkan duka? Tak kutemui isak pada setiap jengkal yang kuhampiri.

Jejak berjejak berganti tapak. Mereka datang silih berganti. Amboiii indahnya. Berderet senyum berhias rona, wajah mereka seperti senja. Ingin ku usap kuberi pulas, supaya janji semakin jelas. Tak ada pilu juga pun ngilu, mereka kini adalah biduk. Siap mengantar berpulau tuju.

Duhai mahligai yang hendak tergapai, berkatilah mereka dengan auramu. Jangan kau murkai mereka dengan angkuhmu. Niscaya kami renta tak kuasa tak berdaya. Tak sanggup kami membujuk, tak tahan kami merajuk, bila mahligai tak sanggup tergapai, pasti kami beroleh badai. Sirna jingga, sirna senja. Tak ingin kami kembali nista. Jauh, jauhkanlah ke tepi sehingga badai tak menghampiri.

Mungkin esokkan segera tiba. Calon segera berganti lakon. Ada yang merengkuh seraya bergemuruh, ada yang lunglai beraroma keruh. Tak henti ku bertengadah, tak jera ku panjat doa, agar kelak bila bersua, tak kau kuak luka dan murka. Calon biarlah tak berlakon, tapi jejak bertepi mati. Jejak elok takkan berkelok. Bila jejak kau simbah darah, kelak singgah berjulur galah. Anang A Yaqin

Fb

Posted on Tuesday, May 12, 2009 by jojo

Aha..ini dia, Fb (bukan flu babi tapi Facebook) kotak ajaib tempat memuntahkan segala ihwal, tempat curhat paling mau menerima segala keluhan, sebagian menjadikannya lahan berbisnis, dan mencari teman. Karena manusia butuh teman. Semua pemakainya, memperlakukan situs jaringan social ini sesuka-sukanya dengan nyaman dan riang gembira. Dalam Fb, kepada teman disini, tidak ada ragu atau malu untuk mengeluarkan semua isi benak bahkan sampai perut mulas. Misalnya, suatu hari saya membaca status di dinding teman: “Makan gado-gado terlalu pedas, sampai (maaf) berak di celana..brrrr”. Atau “Upilku kok bisa nempel di ketiak .., heran dehh”. Sampai begitunya yaa..

Ada lagi ajakan memboikot seorang calon Presiden yang ternyata laris manis diminati, sampai pendukungnya mencapai jumlah 100.000 dalam hitungan jam. “Say No to Mirnawati untuk Presiden” ramai-ramai didukung dan dikomentasi sampai puasss. (siapa yang mau dukung Mirnawati, dikenal juga kagak! Wew… Luar biasa!!

Saya tidak ingin menyebutnya demam atau wabah Fb, sebab tidak membuat badan menggigil atau lunglai. Kebanyakan penggunanya senyum-senyum sendiri, kadang nyengir, melotot, ada juga yang sambil ngiler karena ngiri lihat up date teman yang memang wrhhh…bikin ngiler. (maksudnya teman yang pamer foto lagi makan singkong bakar pake minyak kelapa, hmmm mak nyusss).

Menyaksikan betapa dahsyatnya Fb sebagai media komunikasi, rasanya pantas membayangkan suatu hari manusia tidak perlu keluar rumah, tidak perlu ke kantor dan tidak perlu bermacet-macet ria di jalanan berdebu. Semua bisa diselesaikan dengan kotak kecil bernama notebook. Mau makan pesan lewat internet, mau kerja bisa diselesaikan di rumah. Praktis semua keperluan bisa disajikan melalui kontak dengan internet. Hanya hal tertentu saja seperti (maaf) berak, tidur, bernafas nyisir rambut dan pakai baju. Untuk urusan hubungan intim saja, sebagian orang sudah bisa menyelesaikannya melalui dunia maya sebagian lagi tetap harus dengan nona Maya yang juga bisa dipesan di internet.

Mungkin suatu hari manusia itu tidak perlu lahiriah. Cukup identitas yang bisa dikomunikasikan, maka selesai segala urusan. Manusia sebagai satu kesatuan badaniah rohaniah tak lagi lazim, kelaziman cukup dituntaskan dengan identitas yang terdaftar dalam akun di situs internet, maka jadilah. Apalagi menyangkut segala otoritas kolektif yang selama ini berada dalam genggaman Negara, sudah pasti menyingkir, minggir!!

Apakah ini suatu ancaman bagi eksistensi lahiriah manusia? Sejatinya menjadi ancaman bagi kalangan yang senantiasa berurusan dengan aspek badaniah semata. Bagi mereka yang eksistensinya hadir berjejak tanpa harus melibatkan wujud fisik, rasanya tidak perlu cemas. Toh teknologi tercipta oleh dan untuk mendukung manusia melaksanakan hari-harinya. Pada saat teknologi hadir sampai batas memusnahkan kemanusiaan, pada saat itulah segala bentuk resistensi akan bermunculan. Teknologi yang tidak bisa diterima manusia, mengangkangi kebutuhan manusia, tidak akan eksis. Sejauh ini, mungkin juga nanti, manusia sendirilah yang menentukan untuk diteruskan atau dihentikan. Hidup Fb (sekali lagi bukan flu babi!!)

The Yaqin's

Posted on Tuesday, April 28, 2009 by jojo


Pasca kehadiran Adik Ang bersama kami sejak hampir 1,5 tahun yang lalu, belum pernah kami punya foto bersama yang "layak tampil". Berbeda dengan foto ketika kami masih bertiga (saya, ayah dan Damar) yang terpampang besar di tengah rumah, untuk foto berempat sampai saat ini di rumah kami hanya ada sekitar 3 helai, itupun dengan ukuran dan pose yang sangat tidak "memadai". Dua diantara-nya adalah pose-2 kami sedang berkuda hasil jepretan mat kodak bayaran alias tukang foto keliling dilokasi wisata Tangkuban Perahu. Yang ketiga adalah foto gratis beserta bingkainya yang kami tak sengaja kami dapatkan dapat dari ajag promosi sebuah bank nasional di sebuah mall.

Minggu lalu saat saya mengantar ayah ke dokter, secara kebetulan kami bertemu dengan seorang kawan lama yang kini membuka usaha fotographi. Tempat usahanya persis di samping klinik tempat praktek dokter yang kami kunjungi, tak jauh dari lokasi rumah kami. Pucuk dicinta ulam tiba, kami langsung menyambut tawaran sang kawan untuk memakai jasanya dengan "harga teman". Hari Sabtu kemarin kamipun mengundang kawan tersebut ke rumah. Sambil mengenang kebersamaan kami ditahun-tahun lalu, menyeruput teh hangat ditemani bakar singkong dan pisang rebus di teras belakang, inilah sebagian hasil jepretan-2nya....